jambi4d
LIVEMuaro Jambi bukan satu bangunan yang berdiri sendiri. Tinggalan di kawasan ini mencakup candi, menapo—gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata—serta parit atau kanal kuno dan kolam penampungan air. Temuan seperti arca, keramik, dan manik-manik turut melengkapi gambaran situsnya [1]. Karena itu, kompleks ini lebih mudah dipahami dengan melihat hubungan antara bangunan dan unsur lain di sekitarnya, bukan hanya satu candi yang tampak utuh.
Susunan kawasan mengikuti tepian Batanghari
Situs percandian berada di tanggul alam kuno Sungai Batanghari dan membentang searah dengan jalur sungai. Sumber menyebut terdapat 110 candi di kawasan tersebut, sebagian besar masih berupa menapo yang belum dikupas; sedikitnya 85 menapo disebut masih dimiliki penduduk setempat [1]. Angka dan bentuk tinggalan itu menunjukkan bahwa bagian yang sudah tampak sebagai bangunan bukanlah keseluruhan susunan kawasan.
Kanal kuno dan kolam penampungan air juga tercatat di dalam kompleks, bersama gundukan yang menyimpan struktur bata [1]. Unsur-unsur ini membuat pembahasan Muaro Jambi tidak berhenti pada bentuk arsitektur candi. Bentang situsnya mencakup bangunan, struktur yang masih tertutup tanah, dan tinggalan tata air.
Bangunan yang dipugar dan tinggalan yang belum terbuka
Sembilan bangunan telah dipugar: Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Astano. Kesembilan candi tersebut disebut bercorak Buddhisme [1]. Sumber yang sama juga mencatat adanya beberapa bangunan dengan pengaruh agama Hindu di dalam kompleks [1]. Jadi, sembilan bangunan yang dipugar memberi gambaran penting, tetapi tidak mewakili seluruh bentuk tinggalan yang tercatat di kawasan itu.
Perbedaan antara candi yang telah dipugar dan menapo yang masih berupa gundukan membantu menempatkan temuan dalam konteksnya. Muaro Jambi bukan hanya kumpulan bangunan yang sudah terlihat, melainkan kawasan dengan beragam keadaan tinggalan arkeologi [1].
Temuan benda memperluas konteks sejarah
Selain struktur bata, sumber mencatat arca, gong perunggu bertulisan Tionghoa, mantra Buddhis pada kertas emas, keramik asing, mata uang Tiongkok, dan berbagai benda lain [1]. Manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India juga disebut sebagai bagian dari temuan di situs tersebut [1]. Ragam temuan ini memberi konteks yang lebih luas daripada bentuk candi saja.
Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan bahwa kawasan itu dahulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemunya berbagai budaya [1]. Kesimpulan tersebut membantu membaca Muaro Jambi sebagai kawasan yang memiliki lebih dari satu lapisan tinggalan, meski tidak dengan sendirinya menetapkan fungsi atau asal setiap benda yang ditemukan.
Rentang waktu dan kaitan regional
Kompleks Muaro Jambi diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-12 Masehi. Rentang ini dikaitkan dengan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan dan kesimpulan pakar epigrafi Boechari [1]. Sumber juga menyebut kawasan tersebut kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu—sebuah kaitan yang disajikan sebagai perkiraan, bukan kepastian [1].
Dalam konteks sejarah regional, Sriwijaya dan Melayu digambarkan memiliki pengaruh luas serta berperan sebagai penghubung antara India dan Tiongkok pada masanya [1]. Latar itu memberi skala lebih besar untuk memahami Muaro Jambi, tanpa menjadikan setiap candi atau benda temuan sebagai bukti pasti dari salah satu kerajaan tersebut.
Dengan melihat candi yang telah dipugar, menapo, kanal, kolam, dan benda-benda temuan secara bersamaan, Muaro Jambi tampak sebagai kompleks dengan susunan tinggalan yang beragam. Rentang waktunya dapat dibaca melalui bukti epigrafi, sementara kaitannya dengan Sriwijaya dan Melayu tetap berada dalam ranah perkiraan [1].
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Kompleks Candi Muaro Jambi. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28726036&title=Kompleks_Candi_Muaro_Jambi (diakses 2026-10-02).